Memasuki Musim Pancaroba, Waspada Penyakit Demam Berdarah pada Si Kecil

Anak Sakit Demam

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa Indonesia telah memasuki musim pancaroba yaitu peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, dimulai sejak bulan Maret 2023. Musim pancaroba ditandai dengan perubahan kondisi cuaca yang relatif lebih cepat, dimana umumnya pada pagi-siang yang cerah-berawan dengan panas yang cukup terik, kemudian diikuti dengan pembentukan awan yang signifikan dan hujan intensitas tinggi dalam durasi singkat terjadi di periode siang-sore hari. Kondisi ini meningkatkan potensi bencana alam seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Selain bencana alam, orang tua juga perlu mewaspadai penyakit yang rentan terjadi saat musim pancaroba seperti demam berdarah dengue (DBD).

Dilansir dari World Health Organization, demam berdarah merupakan infeksi virus yang menyebar dari gigitan nyamuk aedes aegypti pada manusia. Umumnya, demam berdarah lebih banyak terjadi di wilayah dengan iklim tropis dan subtropis. Indonesia sebagai negara dengan iklim tropis terutama saat musim pancaroba memiliki potensi yang tinggi dalam penyebaran penyakit demam berdarah. Demam berdarah tidak memiliki gejala khusus sesaat setelah terkena gigitan, dan akan terlihat setelah 4 – 10 hari anak terkena gigitan nyamuk, dan berlangsung selama 2 – 7 hari.

Beberapa gejala yang harus diwaspadai oleh para orang tua yaitu:

  1. Demam: demam yang dialami bayi/anak akan meningkat dari 37,5 derajat celcius hingga 40 derajat celcius, dan berlangsung antara 2 – 7 hari;
  2. Munculnya ruam/bintik merah pada kulit: trombosit darah yang menurun dapat menyebabkan munculnya ruam/bintik merah pada kulit bayi, kondisi ini biasanya muncul pada hari ketiga setelah terkena gigitan;
  3. Mual, disertai muntah: ketidaknyamanan pada anak khususnya di bagian perut dapat menyebabkan nyeri perut, mual, dan disertai muntah yang mengakibatkan anak merasa lemas, letih, dan tidak nafsu makan atau menyusu;
  4. Pendarahan: pendarahan yang tidak biasa muncul pada anak seperti gusi berdarah, dan mimisan. Umumnya anak terlihat pucat akibat kurangnya cairan dalam pembuluh darah.

Selanjutnya, Kementerian Kesehatan menyebutkan, kasus demam berdarah di Indonesia meningkat menjadi 131.265 kasus pada 2022, dibandingkan tahun 2021 sejumlah 73.518 kasus, dengan jumlah kematian yang mengalami peningkatan serupa yaitu 705 orang pada 2021 menjadi 1.183 orang pada 2022. Lebih dari separuh (73%) jumlah kematian di tahun 2022 akibat demam berdarah dengue adalah anak-anak usia 0 – 14 tahun. Pada tahun 2023, hingga bulan Februari telah tercatat sebanyak 710 kasus demam berdarah dilaporkan dari 50 kabupaten/kota di sejumlah provinsi, di antaranya NTT dan DKI Jakarta, dengan jumlah kematian sebanyak enam orang.

Ada tiga hal yang berpengaruh terhadap penularan suatu penyakit, yaitu lingkungan, inang (manusia), dan virus atau sejenisnya. Seseorang (inang) yang rentan terserang penyakit demam berdarah dipengaruhi oleh kondisi obesitas, komorbid bawaan, dan infeksi kembali juga dapat memperparah kondisi demam berdarah. Orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan dan memperhatikan kondisi anak setelah digigit nyamuk untuk deteksi dini dan penanganan saat gejala muncul untuk meningkatkan tingkat kesembuhan. Selain itu, ketidakmampuan anak dalam mengekspresikan perasaan kurang nyaman saat sakit juga perlu mendapat perhatian.

 

Untuk mencegah keluarga khususnya anak terjangkit penyakit demam berdarah, berikut beberapa cara yang dapat dilakukan oleh anggota keluarga, yaitu:

  1. Mengenakan masker untuk melindungi mulut dan hidung saat ke luar rumah;
  2. Menyiapkan jaket, sweater, payung, dan jas hujan sebelum ke luar rumah sebagai antisipasi cuaca yang tidak menentu;
  3. Mengonsumsi makanan bergizi yang kaya vitamin dan mineral seperti buah, sayur, ikan, daging, dan telur untuk meningkatkan sistem imun;
  4.  Istirahat yang cukup, hindari begadang untuk menghindari kelelahan;
  5. Minum air putih setidaknya dua liter atau lebih dalam sehari agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik;
  6. Menjaga kebersihan diri serta lingkungan dengan rajin mencuci tangan ketika akan dan setelah beraktivitas, dan membersihkan tempat penampungan air minimal seminggu sekali;
  7.  Memastikan sirkulasi udara serta cahaya yang masuk ke dalam rumah cukup;
  8. Melakukan aktivitas fisik atau berolahraga secara rutin, misalnya bersepeda atau jalan kaki.

Dengan melakukan tindakan pencegahan tersebut diharapkan anggota keluarga, khususnya anak dapat terhindar dari wabah demam berdarah saat musim pancaroba berlangsung.

 

 

 

 

 

Bagaimana Reaksi anda Tentang Konten Ini?
+1
0
+1
1
+1
0
Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Newsletter Subscribe

Dapatkan Update Terbaru Kami Melalui Email

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x