Peran Kader Bina Keluarga Balita (Bkb) Dalam Pemberian Stimulasi Tumbuh Kembang Anak Balita

Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan pilar utama pembangunan karena sangat menentukan kemajuan bangsa. Kualitas SDM yang antara lain dicerminkan oleh derajat kesehatan, tingkat intelegensia, kematangan emosional dan spiritual, serta produktivitas sangat ditentukan oleh kualitas pada usia dini yaitu dari janin hingga anak berusia 6 tahun.
Bina keluarga Balita (BKB) merupakan salah satu layanan yang diberikan kepada keluarga untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran keluarga mengenai tumbuh kembang anak balita secara optimal. Kegiatan BKB sangat strategis dalam mengupayakan terwujudnya SDM melalui peningkatan cara pengasuhan dan pemberian stimulasi tumbuh kembang balita sejak dini.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 60 tahun 2013 tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif, bahwa untuk menjamin pemenuhan hak tumbuh kembang anak usia dini diperlukan upaya peningkatan kesehatan, gizi, perawatan, pengasuhan, perlindungan, kesejahteraan, dan rangsangan pendidikan yang dilakukan secara simultan, sistematis, menyeluruh, terintegrasi, dan berkesinambungan. Dalam rangka mewujudkan seluruh kebutuhan anak tersebut, maka program BKB sudah dilakukan secara Holistiki Integratif (BKB HI) dengan program lainnya seperti Posyandu dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Pengertian Tumbuh Kembang Anak
Tumbuh-kembang merupakan proses yang dinamik sepanjang kehidupan manusia. Perubahan yang terjadi pada satu fase menjadi dasar perkembangan pada fase berikutnya. Pertumbuhan adalah proses bertambahnya ukuran tubuh baik pada tingkat sel, organ ataupun individu dikarenakan bertambahnya ukuran sel atau bertambahnya jumlah sel, yang meliputi pertumbuhan berat badan atau tinggi badan sesuai dengan umurnya, misalnya: Anak baru lahir, berat badannya 3 kg, tinggi badan 49 cm. Pada usia 3 bulan, biasanya berat badannya dapat bertambah menjadi 5 kg, tinggi badannya menjadi 59 cm.
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (Skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, dalam pola teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan. Dalam hal ini terjadi proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Misalnya sel-sel yang ada di tangan mengalami perkembangan atau pematangan fungsi sehingga dapat melakukan fungsinya untuk makan, menulis mengambil dan lain-lain.
Dalam perkembangan ada 4 aspek yang perlu dinilai yaitu:
Personal social (kepribadian/tingkah laku sosial) Sosialisasi dan kemandirian adalah perkembangan yang berhubungan dengan kemampuan mandiri anak misalnya mengenakan baju dan sepatu sendiri, berpisah dengan ibu / pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya dan sebagainya.
Fine motor adaptiv (gerakan motorik halus) Yaitu motorik atau gerakan yang menggunakan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, misalnya menggambar, mengambil dan sebagainya.
Language (bahasa) kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah.
d. Gross motor (motorik kasar) Gerak kasar atau motorik kasar adalah pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti berlari, melompat dan sebagainya .
Perkembanganjuga proses perubahan perilaku dan mental seseorang, yang meliputi emosi, sosial, kemampuan dan keterampilan. Misalnya: Anak baru lahir/bayi, untuk mengungkapkan rasa lapar,sakit, takut dan sebagainya biasanya bayi tersebut menangis. Pada usia 1 tahun, rasa tersebut diungkapkan dengan kata-kata, misalnya “Mama sakit, minta minum” dan sebagainya.

Tugas Perkembangan Anak
Tugas perkembangan adalah sesuatu tugas yang timbul pada periode tertentu dalam kehidupan seseorang. Adapun menurut Gunarsa, tugas perkembangan ialah tugas yang terdapat pada suatu tahap kehidupan seseorang, yang akan membawa individu kepada kebahagiaan dan keberhasilan dalam tugas-tugas pengembangan berikutnya yaitu apabila tahap kehidupan tersebut dijalani dengan berhasil. Sedangkan kegagalan dalam melaksanakan tugas pengembangan, akan mengakibatkan kehidupan tidak bahagia pada individu dan kesukaran-kesukaran lain dalam hidupnya kelak.
Tugas perkembangan anak meliputi 7 (tujuh) aspek perkembangan, yaitu: 1) Gerakan kasar (GK); 2) Gerakan haIus (GH) ; 3) Komunikasi pasif (KP) ; 4) Komunikasi aktif (KA); 5) Kecerdasan (KC); 6) Menolong diri sendiri (MD); 7) Tingkah laku sosial (TS) .

Prinsip-Prinsip Tumbuh Kembang Anak
Proses tumbuh kembang anak juga mempunyai prinsip-prinsip yang saling berkaitan. Prinsip-prinsip tumbuh kembang meliputi :
Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar
Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya, sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan potensi yang dimiliki anak.
Pola perkembangan dapat diramalkan
Pola perkembangan bagi semua anak mempunyai persamaan, sehingga perkembangan anak selanjutnya dapat diramalkan. Misalnya anak yang sudah dapat berdiri sendiri dapat diramalkan bahwa perkembangan anakselanjutnya adalah berjalan. Perkembangan berlangsung dari tahapan umum ke tahapan spesifik, dan terjadi berkesinambungan.

Stimulasi yang dapat dilakukan pada saat tumbuh kembang
Stimulasi adalah adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya sejak di dalam kandungan) dilakukan setiap hari, untuk merangsang semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan). Selain itu harus pula merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak berkomunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan bayi dan anak-anak.
Stimulasi dini secara rutin di setiap kesempatan perlu diberikan ke anak, karena penyimpangan tumbuh kembang anak bisa terjadi karena kekurangan stimulasi. Perlu diketahui, Usia anak 0 sampai 3 tahun adalah usia emas bagi tumbuh kembang anak. Di usia itu anak yang bagaikan kertas putih akan menyerap segala informasi dan apapun yang mereka lihat maupun dengar sehingga akan mengisi kertas putih yang masih bersih tersebut bagai goresan-goresan pena. Periode ini adalah masa emas sekaligus fase kritis bagi otak anak karena anak dapat cepat menerima masukan dan pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Setiap bayi memerlukan stimulasi maksimal untuk memanfaatkan fase ini untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Contoh Stimulasi Perkembangan Anak Berdasarkan Tahapan Usia:
1. Bayi 0-1 bulan
Ketika bayi rewel dipeluk dengan kasih sayang
Meletakan benda yang bergerak-gerak di atas bayi
Melatih menelungkupkan bayi
Mengajak bayi tersenyum
2. Bayi 1-4 bulan
Bayi dipeluk, dicium, dinyanyikan lagu dan dibuainya
Bayi diajak bicara, menirukan gerak dan mimik bayi, diperdengarkan suara lainnya
Melatih bayi membalik badan (ditelungkupkan)
Melatih bayi mengenggam
3. Bayi 4-6 bulan
Melatih bayi didudukan
Melatih bayi menggunakan kedua tangan memegang benda
Melatih bayi menirukan bunyi agar ditirukan
Melatih bayi menirukan bunyi (main ci-luk-ba, da-da)
4. Bayi 6-9 bulan
Melatih mengangkat bayi untuk berdiri
Melatih bayi memasukan/mengeluarkan benda dari suatu wadah
Memperlihatkan gambar dan menyebutkan namanya
Mengajak bayi dengan cara/bentuk permainan bersama-sama
5. Bayi 9-12 bulan
Melatih bayi berjalan berdiri
Melatih bayi menggelindingkan bola
Melatih bayi corat-coret menggambar
Mengajak bayi makan bersama keluarga
6. Bayi 12-18 bulan
Melatih anak naik turun tangga (rumah)
Bermain melempar dan menangkap bola
Melatih menunjuk dan menyebut bagian tubuh
Memberi kesempatan anak melepas baju
7. Bayi 18-24 bulan
Melatih keseimbangan anak berdiri dengan satu kaki bergantian
Melatih anak menggambar bulatan, segitiga
Melatih anak mau menceritakan apa yang dilihatnya
Melatih anak tentang kebersihan diri (buang air kecil/besar pada tempatnya)
Mengajak anak bermain bola dan melompatnya
Mengajak untuk ikut bernyanyi
8. Bayi 2-3 tahun
Melatih anak berdiri dengan satu kaki
Melatih anak menyusun balok
Melatih anak mengenal bentuk benda dan warnanya
Melatih anak tentang kebersihan diri seperti mencuci kaki, buang air kecil/besar di toilet
Melatih anak dibaju sendiri
Sering mengajak anak keluar (tempat bermain, toko, dan kebun binatang)

Peran Kader BKB dalam Pemberian Stimulasi Tumbuh Kembang Anak
1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan periode kritis bagi perkembangan otak anak sehinga optimalisasi dengan pemenuhan kebutuhan esensial anak dengan pemberian stimulasi, asupan gizi yang baik dan seimbang, pemeliharaan kesehatan serta pengasuhan sesuai tahapan usia anak akan mendukung tumbuh kembang anak sesuai tahapan usianya sejak dalam kandungan. Stimulasi untuk perkembangan anak balita perlu dilakukan sejak dini. Hal ini diperlukan untuk mengetahui adanya gangguan perkembangan dan upaya antisipasi sehingga anak dapat optimal dalam perkembangannya.
Kader BKB merupakan anggota masyarakat yang bekerja sukarela dalam membina dan memberikan pengetahuan kepada orang tua tentang bagaimana cara merawat dan mengasuh anak dengan baik dan benar. Agar tujuan program dapat tercapai dengan baik, maka diperlukan kemampuan para kader dalam menyampaikan Program BKB Holistik lntegratif (BKB HI). Sehingga para anggota keluarga memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam membina tumbuh kembang balita dan anak serta dapat memberikan stimulasi yang tepat demi terwujudnya generasi emas yang lebih berkualitas
Kader BKB merupakan salah satu komponen yang memiliki peran aktif bersama orangtua dalam memberikan optimalisasi tumbuh kembang sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui kegiatan pengasuhan yang berkesinambungan. Orangtua akan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dari para Kader BKB terlatih agar mampu menerapkan kelas pengasuhan yang berkesinambungan di rumah.
Dalam membina tumbuh kembang balita, para kader dan orangtua perlu mengetahui cara memantau perkembangan balita dengan menggunakan Kartu Kembang Anak (KKA). Kartu Kembang Anak (KKA) berisikan petunjuk-petunjuk sederhana bagi orang tua atau pengasuh dalam menuntun untuk memaksimalkan potensi perkembangan anak dengan memberikan stimulasi yang tepat sesuai dengan usianya. KKA dapat digunakan untuk memantau perkembangan anak secara bertahap setiap bulan mulai dari 0 sampai 72 bulan (6 tahun). KKA juga bisa menjadi alat deteksi dini adanya penyimpangan atau gangguan perkembangan anak.
Mengingat pentingnya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan oleh orang tua sesuai dengan tingkat pertumbuhan anak secara optimal, maka setiap orang tua yang mempunyai balita pastikan mendapatkan KKA sebagai sarana referensi yang baik dan benar dalam rangka mendukung tumbuh kembang anak demi pembangunan keluarga Indonesia yang berkualitas.

Referensi:

Buku Pedoman BKB HIU (2022). Jakarta: Direktorat Bina Keluarga Balita dan Anak– BKKBN

Panduan Penggunaan KKA (2023). Jakarta: Direktorat Bina Keluarga Balita dan Anak– BKKBN

Rohmawati, Indah (2016). Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Balita.Tulungagung:Yayasan Puruhita Husada.

https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/751/tugas-perkembangan-anak-dan-stimulasinya diakses pada tanggal 20 Mei 2023.

 

Lili Susanti, S.Sos, M.I.Kom

PKB

Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Barat

___

Tulisan ini merupakan artikel terpilih dalam Ajakan Menulis Artikel Orang Tua Hebat dengan tema “Yuk Maksimalkan Stimulasi dan Gizi Anak untuk Tumbuh Kembang Optimal” yangdiselenggarakan oleh  Direktorat Bina Keluarga Balita dan Anak BKKBN (2024).

Bagaimana Reaksi anda Tentang Konten Ini?
+1
3
+1
0
+1
0
Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Newsletter Subscribe

Dapatkan Update Terbaru Kami Melalui Email

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x