/*; } .etn-event-item .etn-event-category span, .etn-btn, .attr-btn-primary, .etn-attendee-form .etn-btn, .etn-ticket-widget .etn-btn, .schedule-list-1 .schedule-header, .speaker-style4 .etn-speaker-content .etn-title a, .etn-speaker-details3 .speaker-title-info, .etn-event-slider .swiper-pagination-bullet, .etn-speaker-slider .swiper-pagination-bullet, .etn-event-slider .swiper-button-next, .etn-event-slider .swiper-button-prev, .etn-speaker-slider .swiper-button-next, .etn-speaker-slider .swiper-button-prev, .etn-single-speaker-item .etn-speaker-thumb .etn-speakers-social a, .etn-event-header .etn-event-countdown-wrap .etn-count-item, .schedule-tab-1 .etn-nav li a.etn-active, .schedule-list-wrapper .schedule-listing.multi-schedule-list .schedule-slot-time, .etn-speaker-item.style-3 .etn-speaker-content .etn-speakers-social a, .event-tab-wrapper ul li a.etn-tab-a.etn-active, .etn-btn, button.etn-btn.etn-btn-primary, .etn-schedule-style-3 ul li:before, .etn-zoom-btn, .cat-radio-btn-list [type=radio]:checked+label:after, .cat-radio-btn-list [type=radio]:not(:checked)+label:after, .etn-default-calendar-style .fc-button:hover, .etn-default-calendar-style .fc-state-highlight, .etn-calender-list a:hover, .events_calendar_standard .cat-dropdown-list select, .etn-event-banner-wrap, .events_calendar_list .calendar-event-details .calendar-event-content .calendar-event-category-wrap .etn-event-category, .etn-variable-ticket-widget .etn-add-to-cart-block, .etn-recurring-event-wrapper #seeMore, .more-event-tag, .etn-settings-dashboard .button-primary{ background-color:

Childfree dan Komunikasi Antarbudaya di Indonesia

Pada awal tahun 2023, media sosial ramai dengan pembahasan tentang childfree yang menjadi viiral setelah salah satu selebgram Gita Savitri atau yang dikenal dengan “Gitasav” yang membalas salah satu komentar netizen di instagramnya  yang memuji wajahnya awet muda. Gita mengunggah jawabannya seperti dikutip dari detikHealth , Kamis 9 Februari 2023, Gita menuliskan “Not having kids is indeed natural anti-aging. You can sleep for 8 hours every days, no stress hearing kids screaming. And when you finally got wrinkles, you have the money to pay for botox”. Pernyataan Gita yang menyatakan bahwa tidak memiliki anak adalah bentuk dari  anti penuaan alami karena bisa tidur cukup, tidak stres dengar teriakan anak dan punya uang untuk melakukan botox. Pernyataan ini mendapatkan reaksi yang cukup keras dari netizen, publik figur, tokoh agama, tokoh masyarakat bahkan akademisi. Reaksi yang timbul juga sangat beragam, ada yang menolak keras dengan dalih nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia, aspek agama, dan lain sebagainya. Selain yang menolak terdapat juga masyarakat yang menerima dengan memberikan dukungan bahwa childfree adalah hak setiap orang untuk memilih, dan tidak merugikan orang lian. Pembahasan tentang childfree ini dibahas terus di ruang digital sehingga Gitasav menjadi trending dan viral di media sosial. Bahkan dalam diskusi-diskusi ilmiah banyak juga dibahas tentang dampak childfree dalam mempengaruhi proses demografi Indonesia. Fenomena ini akan berdampak pada keberlanjutan populasi, dan ini sudah mulai terlihat pada perubahan struktur kependudukan di Indonesia yang mulai mengarah kepada bentuk piramida terbalik, dimana jumlah anak semakin mengecil dan jumlah lansia semakin membesar.

Sebelum kita bahas lebih lanjut, kita kenali dulu apa itu childfree. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bisa berarti “bebas anak”. Sedangkan menurut Oxford dictionary adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kondisi tidak memiliki anak terutama karena pilihan. Childfree dapat dikatakan keputusan secara sadar untuk tidak memiliki anak. Hal ini sangat berbeda dengan childless yaitu kondisi tidak memiliki anak dikarenakan alasan medis atau kesuburan, yang biasa kita kenal dengan infertilitas. Pilihan untuk tidak memiliki anak oleh seseorang atau pasangan biasanya didasarkan dengan berbagai alasan seperti ingin fokus pada karir, tidak siap memiliki anak, biaya pendidikan mahal sampai pada beban ekonomi keluarga. Dengan childfree pasangan dapat menikmati kebebasan dalam hidup tanpa diganggu tanggung jawab sebagai orang tua.

Childfree bukanlah hal baru di negara barat, seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat, dimana jumlah pasangan tanpa anak terus meningkat. Begitu juga di negara Jepang saat ini sedang mengalami aging population, kekurangan Sumber Daya Manusia atau usia produktif disebabkan oleh penduduknya yang memilih untuk berkarir dan tidak menikah atau menikah tetapi memilih untuk tidak memiliki anak atau childfree.

Peran media sosial dan platform digital sangat besar dalam menyebarkan gagasan childfree ini di kalangan generasi muda. Apalagi selebgramnya generasi muda dan diikuti pernyataan beberapa publik figur yang menyatakan bahwa mereka penganut childfree. Ketika nilai-nilai yang sudah biasa di negara barat masuk ke dalam nilai-nilai masyarakat Indonesia melalui ruang-ruang digital  maka akan terjadi benturan budaya antara budaya baru dengan budaya yang telah dianut atau diyakini oleh masyarakat kita.

Seperti telah dibahas di atas fenomena childfree ini merebak di Indonesia melalui media sosial dan menimbulkan banyak sekali reaksi dari masyarakat, karena masyrakat kita dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai keluarga dan keturunan. Pilihan untuk tidak memiliki anak memicu banyak debat panjang baik di ruang keluarga, media sosial maupun pada ranah akademisi. Ada masyarakat yang bisa menerima pilihan childfree terutama di kalangan generasi muda kita. Akan tetapi banyak juga masyarakat yang menentang seperti orangtua-orangtua yang menganggap anak sebagai salah satu tujuan dari pernikahan. Hal ini dapat kita lihat hasil Pendataan keluarga BKKBN (2022) menunjukkan bahwa 92 persen masyarakat Indonesia masih menganggap bahwa salah satu tujuan dari pernikahan adalah memiliki anak.

Pada budaya masyarakat kita, anak tidak hanya dipandang sebagai individu tetapi sebagai bagian integral dari keberlanjutan nilai, identitas dan kehormatan keluarga. Pada  sebagain besar budaya di Indonesia anak memegang nilai penting dalam keluarga. Sebagai contoh di budaya Batak (Sumatera Utara) anak terutama anak laki-laki dianggap sebagai pewaris marga dan sebagai penjaga silsilah keluarga. Konsep hagabeon (memiliki keturunan) sangat penting dalam status sosial dan spiritual. Begitu juga pada budaya minangkabau dimana garis keturunan diturunkan melalui perempuan atau yang kita kenal dengan sistem matrilineal. Anak perempuan menjadi pewaris harta pusaka dan identitas sebuah suku. Pada budaya Bali anak juga dianggap sebagai siklus reinkarnasi dan spiritualitas keluarga. Budaya Bugis dan Makasar juga menganggap anak adalah penerus “siri” atau harga diri dan kehormatan keluarga. Begitu juga pada budaya Jawa dimana anak dianggap sebagai amanah dan simbol keberlanjutan keluarga dan harapan masa depan. Dari beberapa contoh di atas terlihat bahwa masyarakat Indonesia masih menganut budaya pentingnya anak sebagai pusat dari struktur sosial dan budaya. Nilai-nilai budaya inilah yang diturunkan oleh orangtua kepada anak-anak mereka dengan harapan saat mereka menikah nanti bisa meneruskan harga diri, silsilah, dan kehormatan keluarga. Nilai yang telah terbentuk selama ini kepada generasi muda kita secara tiba-tiba mendapatkan pencerahan dengan masuknya nilai-nilai baru melalui unggahan dan viralnya kasus selebgram Gitasav ini. Muncullah ketakutan-ketakutan di generasi muda, apakah mereka mampu menjadi orang tua nantinya? Apakah mereka bisa membiayai kehidupan dan pendidikan anak-anak mereka nanti mengingat semakin tingginya biaya pendidikan maupun biaya hidup saat ini.

Masuknya nilai-nilai budaya baru menyebabkan goncangan budaya atau culture shock. Generasi muda kita yang terpapar nilai-nilai baru yang berbeda dengan nilai-nilai budaya yang diyakininya selama ini, akan mengalami kebingungan, stres bahkan penolakan terhadap nilai tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Milton J Bennett bahwa respon terhadap perbedaan nilai bisa berada pada spektrum antara penolakan sampai pada penerimaan atau integrasi. Generasi muda yang menolak childfree masih berada pada tahapan menyangkal atau denial dan bertahan atau defense sedangkan generasi muda yang mulai menerima berada pada tahap acceptance atau adaptation. Culture shock ini tidak hanya terjadi pada orang yang memilih childfree tetapi juga pada masyarakat yang melihat bagaimana nilai-nilai budaya masyarakat sudah mulai bergeser oleh perspektif baru.

Masyarakat yang masih menganut budaya kolektif menganggap keberlanjutan keturunan sangat penting akan menganggap childfree adalah keputusan egois yang menyimpang dari norma-norma masyarakat.  Sedangkan masyarakat yang menerima menganggap bahwa childfree adalah salah satu solusi lain untuk keluar dari beban emosional, financial, peran gender dari memiliki anak. Benturan nilai ini tetap harus mampu dijembatani dengan berbagai aspek keilmuan salah satunya adalah pendekatan komunikasi antarbudaya. Pilihan untuk childfree ini pasti akan menimbulkan konflik terutama dengan orang tua yang dibesarkan dengan nilai-nilai budaya yang kuat. Orang tua sangat sulit untuk menerima keputusan anaknya untuk childfree, sedangkan sang anak menjadi semakin tertekan dengan tuntutan orang tua dan merasa tidak didengarkan. Benturan antara nilai-nilai lama dan nilai baru ini bukanlah sekedar konflik antara individu, melainkan sebuah benturan dua budaya, yaitu budaya tradisional yang diinternalisasi dari lingkungan keluarga dan sosial bertemu dengan budaya global yang masuk melalui pendidikan, media digital, dan pengalaman lintas budaya, tidak hanya membutuhkan argumen rasional saja tetapi dibutuhkan adanya empati budaya, yaitu kemampuan untuk memahami bahwa perbedaan pilihan hidup bukanlah bentuk perlawanan melainkan sebagai hasil proses berpikir yang berbeda. Perlu dibangun dialog-dialog empati lintas generasi, yaitu dialog yang berusaha memahami mengapa seseorang berpikir atau merasa seperti itu berdasarkan latarbelakang budayanya. Generasi orang tua yang memaknai anak sebagai bentuk bakti, status sosial dan jaminan hari tua bukanlah sebagai suatu pemaksaan pada anak tetapi hasil dari budaya dan struktur sosial yang telah lama diyakini. Sementara generasi muda yang memilih untuk childfree juga memilki alasan dengan kesadaran mereka atas kemampuan yang mereka miliki, kapasitas mereka dalam pengasuhan, beban ekonomi bahkan trauma-trauma pengasuhan yang mereka alami. Selain itu juga bisa dilakukan edukasi tentang kesadaran berbudaya, dimana kedua pihak diberikan ruang untuk menyadari bahwa mereka hidup dalam sistem nilai yang berbeda dan terus berkembang. Perbedaan nilai merupakan bagian dari dinamika sosial yang sehat, maka dibutuhkan peran dari media terutama media sosial, pendidikan dan komunitas untuk menanamkan kesadaran bahwa perubahan nilai merupakan bagian dari proses sosial alami.

Fenomena childfree bukan hanya dilihat pembenarannya dari berbagai disiplin ilmu maupun sudut pandang agama saja, tetapi bagaimana caranya menyampaikan perbedaan nilai budaya dengan cara yang tidak menyingkirkan sisi kemanusiaan. Disinilah peran dialog budaya yang melihat perbedaan ini bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai ruang pembelajaran lintas generasi. Childfree bukan hanya untuk diperdebatkan kebenarannya, tetapi perlu dikembangkan cara komunikasi yang lebih inklusif, mengakui hak setiap orang atas hidupnya dan juga memberikan ruang bagi generasi lebih tua untuk menyuarakan harapan mereka. Kunci utama terletak pada adanya empati, kesetaraan dan literasi budaya. Tanpa ketiga hal ini perbedaan nilai akan terus dijadikan arena perang antara nilai lama dan nilai baru, yang seharusnya perbedaan ini bisa menjadi tempat untuk tumbuh bersama.


Daftar Pustaka
Bennett, M. J. (1998). Basic concepts of intercultural communication: selected readings. Intercultural Press, Inc., PO Box 700, Yarmouth, ME 04096.
Lubis, K., & Joharis, M. Analisis Culture Shock Fenomena Childfree Di Media Sosial Abdul Rahman Matondang, Muhammad Ridwan Dalimunthe, Maryam.
Sembiring, F. A., & Muary, R. (2023). Fenomena childfree dalam perspektif masyarakat Batak. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM)4(1), 22-35. https://doi.org/10.29103/jspm.v4i1.9904
https://pasca.unair.ac.id/pro-kontra-fenomena-childfree-airlangga-forum-bahas-dampaknya-terhadap-angka-harapan-hidup-lansia-di-indonesia/
https://www.detik.com/sumut/berita/d-6560720/mengenal-childfree-resep-awet-muda-ala-selebgram-gita-savitri#google_vignette


Penulis:

Hemiliana Dwi Putri
Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Bagaimana Reaksi anda Tentang Konten Ini?
+1
3
+1
0
+1
0
Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Newsletter Subscribe

Dapatkan Update Terbaru Kami Melalui Email

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x