Berhenti Merokok Layak untuk Anda Perjuangkan, Bulatkan Tekad!

Siapapun tahu bahwa merokok adalah perilaku yang tidak sehat. Efek paparan rokok dapat dialami oleh pengguna (first hand), perokok pasif  (second hand), dan paparan racun dari endapan zat rokok di benda (third hand). Tapi tahukah para Orang Tua hebat, seberapa buruk sih merokok itu dan bagimana dampaknya terhadap tumbuh kembang anak? Mari simak dampak dari benda dengan kandungan banyak zat kimia yang satu ini supaya mendapatkan alasan kuat untuk berhenti merokok baik bagi diri sendiri maupun kerabat lainnya.

  1. Merokok dapat menyebabkan masalah bagi wanita yang ingin hamil, yang sudah hamil, dan bayinya sebelum dan sesudah lahir. Pada ibu atau calon ibu, merokok dapat membuat sulit hamil; plasenta terpisah dari rahim terlalu dini dan menyebabkan pendarahan; plasenta menutupi serviks lalu menyebabkan komplikasi; serta menyebabkan pecah ketuban dini. Adapaun pada janin atau bayi menyebabkan bayi lahir BBLR; lahir prematur, mengalami sindrom kematian mendadak, kematian janin, dan kematian bayi.
  2. Hasil dari Indonesian Family Life Survey (IFLS) menunjukkan bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga perokok kronis memiliki berat badan 1,5 kg lebih rendah dan tinggi badan 0,34 cm lebih pendek dibandingkan anak-anak yang berasal dari keluarga nonperokok.
  3. Hasil penelitian dari PKJS-UI (2018) menunjukkan bahwa konsumsi rokok berhubungan secara signifikan dengan kemiskinan. Setiap kenaikan 1% belanja rokok meningkatkan peluang terhadap kemiskinan sebesar 6 persen poin pada rumah tangga. Ironinya, jika ditelusuri perilaku merokok ini justru ditemukan pada mereka yang menerima bantuan seperti PKH.
  4. Mengikuti poin sebelumnya, perokok kronis lebih berpotensi memiliki anak-anak pendek dibanding yang tidak merokok. Lebih dari 5,5% anak dari orang tua perokok berisiko mengalami stunting dibanding dengan anak dari orang tua bukan perokok. Akibatnya, tingkat intelegensia anak juga terpengaruh.
  5. Menghisap 1 batang rokok mencuri 25 mg vitamin C. Merokok mempercepat produksi radikal bebas. Saat radikal bebas ada, tubuh melawan dengan antoksidan seperti vitamin C. Akan tetapi jika kadar vitamin C sudah rendah dan merokok, tubuh mungkin tidak mampu melawan sehingga menyebabkan kerusakan pada organ dan jaringan. 

Sementara itu, seorang perokok yang berhenti merokok akan mendapatkan keuntungan sejak 20 menit pertama. Pada saat itu, tekanan darah, denyut jantung, dan aliran darah tepi akan membaik. Pada jam ke-12, tingkat karbon monoksida di dalam darah akan kembali normal. Selanjutnya di jam ke-48,  sistem aliran darah membaik, dan fungsi jantung dapat meningkat. Semakin lama, 2-12 minggu berikutnya, nikotin akan tereliminasi dari sistem indra pengecap dan penciuman membaik. 

Berlanjut ke 1-9 bulan, nafas pendek atau sesak dan batuk-batuk akan berkurang. Jika mencapai hingga 1 tahun, risiko terjadinya jantung koroner akan berkurang setengahnya dibanding dengan perokok. Dilanjutkan hinga 10 tahun, risiko kanker paru setengahnya dibandingkan perokok, dan jika sampai 15 tahun, maka risiko serengan jantung dan stroke turun ke tingkat yang sama dengan yang bukan porokok.

Meski begitu, untuk berhenti merokok tidaklah mudah. Orang Tua Hebat dapat mendapatkan layanan konseling berhenti merokok pada 08001776565, sebuah inovasi yang dikembangkan oleh Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI. Layanan telepon bebas pulsa dan menjangkau seluruh wilayah Indonesia. 

Referensi:
  1. Centers for Disease Control and Prevention. (2020). Smoking During Pregnancy.  
  2. Sekolah Kajian Stratejik dan Global Pusat Kajian Jaminan Sosial. (2019). Perilaku Merokok dan Dampaknya terhadap Kualitas Hidup pada Keluarga Penerima Dana Bantuan Sosial.
  3. Medise, Bernie Endyarni. (2022). Kaitan antara perilaku merokok dengan kejadian stunting pada anak sejak dalam masa kandungan (ditinjau dari aspek dokter anak). Diakses dari webinar Sosialisasi Pemahaman Hubungan Perilaku Merokok dan Stunting BKKBN.
  4. Makhabah, Dewi N. (2017). Berhenti Merokok. 
  5. Kemenkes (2019). Anda Perokok Ingin Berhenti Merokok?

Profil Penulis,

 

Nurcahaya Sihombing, S.K.M.
Penyuluh KB Ahli Pertama
BKKBN Perwakilan Provinsi Jawa Tengah 

___

 Tulisan ini merupakan artikel terpilih dalam Ajakan Menulis Artikel Orang Tua Hebat dengan tema “ISPA dan Bahaya Rokok pada Balita” yang diselenggarakan oleh Direktorat Bina Keluarga Balita dan Anak BKKBN (2023).

Bagaimana Reaksi anda Tentang Konten Ini?
+1
5
+1
1
+1
0
Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Newsletter Subscribe

Dapatkan Update Terbaru Kami Melalui Email

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x