Anaknya Didiaknosa Stunting? Orang Tua Mari Sama-sama Bertanggung Jawab

“Bagi Sebagian keluarga mungkin akan bertanya, jika misalnya Anak Saya didiagnosa Stunting. Lantas apa yang mesti saya lakukan?”

Stunting menjadi isu global hingga saat ini. Menurut WHO Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Anak-anak didefinisikan sebagai stunting jika tinggi badan terhadap usia mereka lebih dari dua standar deviasi di bawah median Standar Pertumbuhan Anak versi WHO.

Dalam hal pemantauan pertumbuhan dan perkembangan Anak di posyandu, seringkali menjadi polemik bahwa keluarga tidak terima jika anaknya didiagnosa stunting. Sehingga jika sudah didiagnosa stunting, keluarga tidak mau lagi mengantarkan anaknya untuk dilakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangannya. Padahal jika sudah didiagnosa stunting, ada langkah-langkah yang mungkin bisa menjadi solusi yang baik untuk keluarga dan Anaknya kelak. Keluarga memiliki kewajiban untuk menjaga pertumbuhan dan perkembangan Anaknya di usia dini. Anak yang normal dapat terlihat dari pertumbuhan fisik dan perkembangan otaknya yang sesuai usianya.

1000 Hari pertama kehidupan menjadi salah satu masa yang paling penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bagi Anak. Yakni 270 hari semasa di kandungan dan 730 hari atau selama 2 tahun setelah dilahirkan. Jadi jika masa 1000 hari pertama kehidupan sudah lewat apakah stunting masih bisa diobati? Jawabannya adalah kondisi gangguan pertumbuhan ini tidak bisa lagi jika jendela 1000 hari pertama kehidupan telah terlewati. Mungkin saja pertumbuhan tinggi badan bisa dikejar hinga usia remaja atau 24 tahun dengan perbaikan gizi dan olahraga. Namun, perkembangan otak sudah mencapai 70%-80%.

Sobat Kerabat jika hal ini terjadi jangan berputus asah. Tentunya keluarga harus tetap semangat dan bertanggung jawab penuh untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Beberapa Langkah praktis yang keluarga lakukan, yakni:

1.Keluarga bisa menghubungi Tim Pendamping Keluarga (TPK) di wilayah setempat. 

Tim pendamping keluarga adalah tim yang terdiri dari Bidan Desa, Kader PKK, dan Kader KB yang bertujuan untuk melakukan KIE dalam rangka pencegahan stunting bagi keluarga di Indonesia. Sasaran dari pendampingannya adalah Calon Pengantin / Calon Pasangan usia subur, Ibu Hamil, Ibu Pascasalin, Bayi 0-23 Bulan , dan Balita 24-59 Bulan. Setelah menghubungi Tim Pendamping Keluarga dan datanya terinput pada aplikasi pendampingan (Elsimil) maka TPK akan memberikan KIE serta jika dibutuhkan fasilitasi rujukan, maka TPK akan menghubungkan ke fasilitas Kesehatan terdekat untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

2.Keluarga Bisa Konsultasi Ke Dokter Anak

Dokter Anak adalah pilihan yang tepat untuk melihat adanya gangguan pertumbuhan fisik akibat penyakit penyerta dan bisa dilakukan deteksi jika adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan otaknya. Dokter anak akan memberikan saran dan edukasi kepada keluarga terkait Langkah taktis bagi pertumbuhan anak.

3. Keluarga Aktif Mengantarkan Anaknya Pada Kegiatan Posyandu dan Imunisasi

Pos Pelayanan Terpadu atau Posyandu adalah salah satu tempat yang paling mudah untuk bertemu antara masyarakat dan kader Kesehatan ataupun petugas Kesehatan. Pada kegiatan posyandu ada banyak informasi Kesehatan yang bisa didapatkan selain berat badan dan tinggi badan anak. Selain itu Imunisasi yang merupakan hak anak untuk kebal terhadap penyakit infeksi berbahaya, tidak perlu khawatir karena Pemerintah menjamin ketersediaan dan keamanan vaksin-vaksin tersebut.

4. Keluarga Memberikan ASI Eksklusif dan MPASI yang terbaik serta gizi seimbang

Asi Ekslusif selama 6 bulan artinya tanpa adanya zat yang lain masuk kedalam tubuh anak selain Asi. Setelah itu Ibu akan menyusui sampai usia 23 bulan anaknya tentunya dengan Pemberianan Makanan Pendamping ASI (MPASI) jika anak usia 6-23 bulan. Untuk menu yang bervariasinya bisa belajar pada kader posyandu atau Tim Pendamping Keluarga di wilayah setempat.

5. Keluarga Aktif mengantarkan Anaknya Pada Kegiatan Bina Keluarga Balita dan Pendidikan Anak Usia Dini.

Stimulasi Pertumbuhan dan Perkembangan otak anak dapat diberikan pada kegiatan Bina Keluarga Balita yang biasanya dapat diberikan pada usia 0-6 tahun. Selain itu bisa didapatkan di PAUD  jika usianya 4-6 tahun. Stimulasi ini dapat berupa permainan gerak fisik, motorik kasar, motorik halus, yang bisa merangsang pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Selain itu ada juga kartu kembang anak (KKA) yang bisa menjadi pedoman orang tua untuk melihat perkembangan otak dari Anaknya. 

6. Keluarga Bisa Menghubungi dan Konsultasi Pada Tenaga Petugas Gizi (TPG) di Puskesmas

Jika Anak berada pada gangguan gizi kurang bisa melakukan konsultasi agar mendapatkan bantuan MPASI bagi bayi  6-23 bulan , PMT (Makanan Tambahan)  bagi balita 2- 5 tahun. Namun, Jika Balita dengan status gizi buruk maka disarankan untuk diberikan perawatan di Rumah Sakit  atau Puskesmas Rawat Inap agar bisa mendapat terapi gizi hingga berat badan hingga mencapai grafik hijau dan selanjutnya perawatan di rumah oleh keluarga.

7.Keluarga Memfasilitasi Anaknya dengan Aktivitas yang merangsang Pertumbuhan

Keluarga bisa memilih aktivitas fisik yang sesuai dengan minat dan kesenangan anaknya. Jika di usia 0-2 tahun mungkin diajak bermain Bersama. Untuk usia 2-5 tahun bisa diajak dengan aktivitas olahraga fisik yang mudah dan bisa diterapkan oleh anak kita seperti bersepeda, berenang, ataupun lainnya.

Setidaknya dari tujuh hal yang bisa keluarga lakukan sebagai bentuk tanggung jawab kita kepada anak kita. Diagnosa stunting adalah mimpi buruk untuk keluarga, namun keluarga harus terus optimis dan memberikan polah asuh dan kasih sayang optimal kapada anaknya.

  1. Jika Balita ada gangguan perkembangan maka dilakukan stimulasi tumbuh kembang atas nasihat dokter spesialis tumbuh kembang anak.
  2. Ayah bunda fasilitasi Ananda untuk aktivitas fisik yang merangsang pertumbuhan, seperti berenang jika anak sudah cukup besar (2-5 tahun) dan bermain jika maasih usia dini (0-2 tahun)

Referensi:

  1. Who.int. “Stunting in a nutshell” 19 November 2015. (https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell#:~:text=Stunting%20is%20the%20impaired%20growth,WHO%20Child%20Growth%20Standards%20median) diakses tanggal 21/03/2024.
  2. Cegahstunting.com. “Anakku Stunting, Harus Bagaimana?” 26 September 2021. (https://www.cegahstunting.com/post/mengatasi-balita-stunting) diakses tanggal 21/03/2024.
  3. Skata.info. “Terlanjur Stunting Mungkinkah Diperbaiki?” 01 juli 2021. (https://skata.info/article/detail/973/terlanjur-stunting-bisakah-diperbaiki) diakses tanggal 21/03/2024.
  4. Genbest.id. “10 cara mengatasi stunting pada anak, orang tua wajib tahu!” 16 juni 2023. (https://genbest.id/articles/cara-mengatasi-stunting-pada-anak-orang-tua-wajib-tahu) diakses tanggal 21/03/2024.
  5. Ayosehat.kemkes.go.id. “Cara Menangani Stunting- Bagaimana Prosedurnya?” 26 Juni 2023. (https://ayosehat.kemkes.go.id/cara-menangani-stunting–bagaimana-prosedurnya) diakses tanggal 21/03/2024.

Alamsyah, SKM

Penyuluh Keluarga Berencana, Provinsi Sulawesi Barat

___

Tulisan ini merupakan artikel terpilih dalam Ajakan Menulis Artikel Orang Tua Hebat dengan tema “Terdiagnosa Stunting, Bagaimana Perawatannya?” yang diselenggarakan oleh  Direktorat Bina Keluarga Balita dan Anak BKKBN (2024).

Bagaimana Reaksi anda Tentang Konten Ini?
+1
1
+1
0
+1
0
Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Newsletter Subscribe

Dapatkan Update Terbaru Kami Melalui Email

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x